September 29, 2009

Investasi Migas di Indonesia

UU No.22/2001 tentang Migas telah mendorong Indonesia menjadi net oil importer secara permanen karena investasi dan penemuan cadangan baru menurun. Sejak tahun 2008 Indonesia menjadi pengimpor minyak sepenuhnya (net oil importer) dan keluar dari OPEC. UU No.22/2001 mewajibkan setiap kontraktor migas membayar pajak & pungutan-pungutan lebih dahulu sebelum melakukan eksplorasi. Padahal dahulu, saat masih berpegang pada UU N0.8/1971, pemerintah membolehkan kontraktor migas melakukan eksplorasi lebih dahulu, baru membayar pajak + pungutan-pungutan.

Produksi minyak dan gas bumi Indonesia terus mengalami penurunan sejak tahun 1996 dan turun secara drastis mulai tahun 2000. Tahun 1999 produksi Indonesia sekitar 1.537.000 barrel per hari. Tahun 2009 target pengeboran 960.000 barrel per hari dan untuk tahun 2010 target pengeboran hanya 965.000 barrel per hari. Menurunnya produksi minyak mentah karena langkanya penemuan cadangan atau lapangan minyak baru, saat ini kita masih mengandalkan produksi lapangan-lapangan tua yang terus mengalami penurunan.

Penurunan produksi migas bisa diatasi bila pemerintah menetapkan kebijakan melakukan eksplorasi di laut dalam. Saat ini eksplorasi laut dalam di Indonesia baru dilakukan di Selat Makassar. Menurunnya investasi dan penemuan ladang minyak baru di Indonesia berbanding terbalik dengan perkembangan di negara lain, baik anggota OPEC maupun non OPEC, terutama di Kawasan Afrika Barat dan Asia Tengah yang semakin giat mencari lapangan minyak baru.

Indonesia's Top 10's Oil & Gas Producer per August 2009
Courtesy Indonesian PetroEnergy Magazine

No comments:

Post a Comment